Ke Bandung Sendirian Sehari Aja? Bisa Kok!

Tanpa banyak plan, dan trip yang sangat dadakan ini, terpilihlah Bandung sebagai alternatif liburan yang jatahnya memang 1 malam aja. Selain dekat dengan Jakarta, di kota kembang ini juga banyak destinasi wisata di seputaran kotanya, jadi bisa dapet tujuan banyak dan lebih hemat.

Pagi buta sekitar jam setengah 4 pagi saya sudah naik Go-jek menuju stasiun Gambir dari Bintaro. Jam 5 pagi kereta yang akan mengantarkan saya ke stasiun Bandung sudah berangkat, Argo Parahyangan. Sudah lama sekali hasrat terpendam ini baru bisa tersalurkan, Alhamdulillah Bandung lautan api😀. Kurang lebih 3,5 jam saya sampai di Bandung, cepet juga ya!

Dari stasiun Bandung tujuan dan alasan pertama saya datang ke Bandung adalah Kawah Putih Ciwidey. Penasaran dengan keindahan kawah putih ijo super soft nya :*

How to go to Kawah Putih Ciwidey from stasiun Bandung:

  1. Dari stasiun saya langsung memesan ojek (Go-Jek) dengan tujuan terminal Leuwi Panjang kurang lebih estimasi waktunya 15 menit.
  2. Dari terminal Leuwi Panjang saya mencari Elf semacam angkot tapi lebih besar, orang biasanya bilang L300. Elf ini dengan tujuan terminal Ciwidey. Elf ini akan berangkat kalau penumpang sudah penuh. Desak-desakan sudah pasti, anget juga, apalagi panas😀. Estimasi waktu dari terminal Leuwi Panjang ke terminal Ciwidey +/- 1,5 jam.
  3. Di terminal Ciwidey, saya naik angkot warna kuning dengan tujuan Rancabali/ tanya saja orang tujuan Kawah Putih. Disinipun juga nunggu penumpang penuh. Estimasi waktu ke kawah putih +/- 45 menit.

Pengalaman pahit pertama di Bandung terjadi setelah saya menaiki angkot warna kuning ke arah kawah putih dari terminal Ciwidey. Setelah satu persatu penumpang turun, tinggalah saya dan empat orang di dalam angkot. Karena saya duduk di depan, saya tanyalah kepada sopir tentang ciwidey, ya dibaik-baikin seperti ngobrol biasa, biar saya juga dapat cerita dari orang lokal langsung tentang ciwidey walaupun saya sudah membaca juga dari internet. Disinilah insiden muncul. Tiba-tiba sopir meminggirkan angkotnya. Lalu dia menyuruh dua penumpang lokal turun untuk oper angkot. Tinggalah saya dan dua orang dengan tujuan kawah putih.

Sopir: “Maaf ya aa’, istirahat bentar”.

Saya: “Oh iya bang”. Sebenarnya disini saya sudah menaruh curiga, positif thinking sajalah.

10 menit berlalu …

Saya: “Bang ayo jalan, udah ada angkot lewat 1”.

Sopir: “Iya aa’, bentar ya nunggu penumpang”.

Saya: “Oke”. Kecurigaan bertambah besar.

10menit berikutnya …

Sopir: “Gini aa’, naik kawah itu nanti aa’ harus bayar bla bla bla panjang lebar sampai nawarin paket trip lainnya, bayarnya pun dinaikin berlipat lipat”.

Dugaan saya benar, paling males sama orang yang kayak gini, dikira saya nggak ngerti apa ya jaraknya, htm-nya untuk masuk wisata kawah putih. Intinya sebagai turis saya merasa dijahatin #eaaa!

Setelah ngeyel, saya dan kedua penumpang pun sepakat untuk membayar ongkos yang sudah di mark-up sama sopir. Nggak seberapa sih cuma 2x lipat tapi rugi waktu dan jadi bikin bad mood!

Heran sama orang lokal. Kadang ada yang dibaiki malah baik. Tp ada juga yang dibaiki malah mengambil kesempatan kejahatan. Gimana mau nggak males naik transportasi umum!

Setelah tiba di gerbang kawasan putih ciwidey, saya pun bayar sesuai kesepakatan tadi. Kurang seribu, bodo, langsung saya tinggal. Semoga bad mood nya ilang setelah ketemu sama kawahnya #menenangkan diri sendiri.

Di sini saya langsung menuju loket untuk membayar tiket masuk dan paket kendaraan yang akan mengantarkan saya ke atas, nama kendaraannya Ontang-Anting (seperti angkot warna kuning tapi pintu sudah dimodifikasi menjadi lebih terbuka). Jarak antara loket dengan kawasan kawah adalah +/- 5 km, jadi memang harus naik ini. Jika membawa kendaraan sendiri (mobil) juga bisa langsung naik.

Hanya selang waktu 10 menit saya sudah sampai di parkiran atas, udara disini sudah lebih segar dan dingin daripada di bawah tadi. Karena hari itu juga mendung jadi ya nggak panas-panas banget. Jalan kaki sekitar 200 meteran, kawah putih itu sudah menampakkan wujudnya. Benar-benar biru muda yang ada efek-efek glow nya, kadang putih kadang biru, torquise, ah bagus yang jelas. Bad mood nya langsung ilang, haha… Dan hari itu walaupun weekdays pun ternyata sangat ramai, ntah kalau weekend ramainya kayak apa lagi. Kegiatan yang bisa dilakukan disini hanya foto dan menikmati keindahan alamnya ya, forbidden untuk masuk ke kawah apalagi mandi. Juga jangan lama-lama di sini karena saya sendiri hanya gak sampai 1,5 jam udah pusing karena asap belerangnya yang keluar terus. Jangan lupa bawa masker untuk mengurangi bau asapnya.

Ramainya pengunjung
Ramainya pengunjung
forbidden ya
forbidden ya
melihat mereka berdua jadi pengen cepet-cepet punya juga, hahaha
melihat mereka berdua jadi pengen cepet-cepet punya juga, hahaha
KaPut dilihat dari atas
KaPut dilihat dari atas
Hutan di sekitar KaPut
Hutan di sekitar KaPut
Warnanya itu lho :*
Warnanya itu lho :*
lagi gede-gedenya asap
lagi gede-gedenya asap

Puas mengambil foto dan menikmati kesepian diri ini saya pun balik lagi ke parkiran dan melanjutkan lagi perjalanan ke kota Bandung. Sebenarnya di kawasan Ciwidey ini banyak wisata alam yang bisa di explore, ada danau Situ Patenggang, Kebon Strawberry, dan lain-lain. Tapi karena keterbatasan waktu saya skip.

Untuk perjalanan pulang dari kawah putih ke Bandung adalah naik kendaraan yang sama dengan yang berangkat tadi. Naik angkot warna kuning sampai terminal Ciwidey dan oper naik elf menuju terminal Leuwipanjang. Untuk angkot warna kuning bisa beroperasi sampai jam 4 sore. Cuman saran aja karena jumlahnya terbatas lebih baik sebelum jam 3 sudah pulang. Lalu untuk elf di terminal Ciwidey ada sampai jam 6 sore.

Oh ya di perjalanan pulang dari kawah putih ke terminal Ciwidey lagi-lagi saya sebagai turis lokal merasa dijahatin, #eaaa… Jadi ceritanya hampir sama kayak pas berangkat tadi, cuman ini gak pakai berhenti segala angkotnya di pinggir jalan. Cuman di terminal langsung di sodori bill angkot yang di sudah di markup walaupun nggak sebanyak tadi. Saya sudah berusaha ngomong baik tapi tetap nggak bisa, ah ya sudahlah, semoga dibalas sama yang di Atas, amin.

Sampai terminal Leuwi Panjang lagi, saya memesan Go-jek untuk mengantarkan ke hostel di daerah kota. Sekedar info, sampai saat kemarin, Go-jek disini masih sembunyi-sebunyi menampakkan kehadirannya. Karena mereka sering bentrok dengan ojek lokal. Jadi mereka pun tidak memakai jaket Go-jek dan helmnya adalah seperti helm biasa tanpa logo gojek. Kita naik nya pun harus di tempat-tempat yang tidak banyak ojek lokal berkeliaran. Jadi kadang harus jalan kaki beberapa meter dulu. Kata driver Go-jek nya sih lebih aman begitu, karena memang kantor pusatnya belum bertindak lebih jauh, saya pun dicurhati driver karena tarif mereka yang sudah dipotong akan dipotong lagi beberapa persen, semoga cepat kelar ya pak urusannya.

Cuaca Bandung kemarin sedang labil, padahal sore itu panas, eh ternyata di tengah perjalanan naik ojek, hujan tiba-tiba mengguyur kota, alhasil hujan di sore panas sukses membuat celana dan sepatu nyemeknyemek (mie ayam kali nyemek-nyemek) haha…

Saya memilih tinggal semalam di Chez Bon Hostel atas rekomendasi temen yang asli Bandung. Dan memang tidak salah pilih. Selain ramah di kantong, staff hotel pun ramah-ramah, saya pilih dormitory room dengan 16 bed di dalamnya. Tapi kemarin hanya terisi 7 bed saja termasuk saya. Kamarnya juga bersih, AC dingin. Recomended lah ya kalau ingin bermalam disini. Hostel ini tepat berada di tengah-tengah kota, di Jl. Braga yang sudah seperti Jl. Malioboro kalau di Jogja. Cuman Jl. Braga disini tidak ada penjual gerobaknya. Mayoritas adalah kafe-kafe gaul dan kuliner enak yang mayoritas mahal 😂.

Pintu masuk hostelnya adalah tembok bata warna merah
Pintu masuk hostelnya adalah tembok bata warna merah
Banyaknya kursi taman ini dan trotoar yang nyaman menjadi daya tarik tersendiri
Banyaknya kursi taman ini dan trotoar yang nyaman menjadi daya tarik tersendiri
Dormitory isi 16 bed
Dormitory isi 16 bed
Rebahan sejenak
Rebahan sejenak

Setelah istirahat sebentar di hostel, saya melanjutkan perjalanan malam itu. Berburu kuliner dan kaos murah berkualitas (Bandung terkenal dengan fashionnya, makanya dijuluki juga Bandung kota fashion). Bahkan room mate yang dari Malaysia pun jauh-jauh ke Bandung hanya ingin belanja sepatu, wew!

Banyak yang harus dicoba kuliner disini, ada batagor kuah, tulang jambal, bebek garang, nasi timbal dan masih banyak yang lain. Malam itu saya hanya makan di RM Padang Masih Dicubo, jauh-jauh k Bandung ko nasi padang? Hahaha… Ternyata nasi padang disini memang ramai, terletak di dekat stasiun kereta api Bandung. Kata teman memang salah satu kulinernya itu juga, dan rasanya boleh juga.

Selesai makan saya langsung menuju daerah Dago, jalan kaki yang lumayan jauh kalo dari Jl. Braga, menuju Cheap Outlet, Donatello, Blossom sampai lupa namanya apa lagi. Siapa tau beneran dapat kaos murah yang bagus. Muter-muter ke beberapa outlet ternyata kurang lebih ya sama saja sebenarnya dari Jakarta, cuman memang ada yang lebih murah dan bahannya bagus.

Selesai window shopping sebenarnya beli kaos oblong 1 aja, saya melanjutkan perjalanan ke alun-alun Bandung, kali ini ngojek sajalah, masalahnya lebih jauh lagi jaraknya. Alun-alun yang basah malam itu ternyata rame juga. Karpet rumput dari bahan plastik memang jadi daya tarik tersendiri. Bagus, saya suka konsepnya. Banyak anak-anak kecil lelarian disini, juga muda mudi yang lagi kentjan #jadibapersendiri hahaha…

Alun-alun Bandung
Alun-alun Bandung
Cantiknya :*
Cantiknya :*
Masjid Raya Bandung
Masjid Raya Bandung

Setelah puas mengademkan mata melihat yang ijo-ijo saya melanjutkan lagi walking tour sendirian saja sampai menuju Jalan Braga. Duduk-duduk di kursi yang terletak di sekitar Jl. Asia Afrika, melihat orang lalu lalang, melihat orang bergandengan tangan #baperlagi. Ah cukup, lanjut jalan lagi sambil mencari kuliner malam dan mungkin kerena sudah larut malam sekitar jam 11, sudah banyak resto-resto di jalan Braga yang tutup. Hanya kafe-kafe gaul dipenuhi anak muda dengan musik ajeb-ajebnya, huwooh #hepiajawalosendiri haha… Akhirnya nemu ibu-ibu jualan baso mie urat ceker di salah satu gang, karena memang laper, pesen lah seporsi untuk pengantar tidur. Oh ya, jalan-jalan malam ini pun saya sempet digoda-goda kembangkembang lho, langsung kabur aja deh, atut diapa apain hahaha…

Depan alun-alun
Depan alun-alun
Salah satu sudut kota
Salah satu sudut kota
salah satu sudut lainnya
salah satu sudut lainnya
Jalan Braga
Jalan Braga

Di hostel langsung tidur, bangun-bangun kedinginan sama ACnya dan karena memang sudah pagi ternyata. Resiko di dormitory gini adalah kalau ada yang ngoroknya kenceng banget, lempar bantal aja, haha… Get up, masih ada waktu explore Bandung sampai siang. Selesai mandi lalu sarapan di hostel. Di sini free breakfast, cuman self service. Mulai dari bikin teh/ kopi, bikin roti bakar, goreng/ rebus telur sampai nyuci kembali piring yang kotor.

Sarapan ala alanya
Sarapan ala alanya

Selesai sarapan, lanjut packing dan check-out. Lalu ngojek lagi sampai Gedung Sate karena jaraknya yang lumayan. Jalan kaki bisa sekitar 30 menitan. Gedung sate ini adalah gedung pemerintahan kota Bandung. Cukup dilihat dari luar saja. Dilanjut jalan kaki ke museum Geologi. Sayangnya pas sampai depan eh ternyata closed. Hmm. Tarik napas, hempas, bye… Ternyata museum memang tutup pada hari Jumat. Lalu saya lanjutkan lagi jalan kaki ke Tulang Jambal sekiloan meter dari Gedung Sate. Dan what the… Tutup lagi, wkwk.. padahal sudah jam setengah 11 siang. Kata penjualnya memang buka baru jam 12an. Ah ya sudahlah belum jodoh. Salah saya juga  karena kurangnya informasi yang dikumpulkan. Akhirnya makan di Bonchon -,-

Tulang Jambal -closed-
Tulang Jambal -closed-
Gedung Sate
Gedung Sate
Lapangan depan Gedung Sate
Lapangan depan Gedung Sate

Selesai makan saya lanjutkan lagi perjalanan dengan ngojek ke Masjid Raya Bandung untuk menunaikan solat Jumat. Di luar panas tapi di dalam masjid, ademnya luar biasa. Yang disayangkan adalah banyak orang yang bawa sepatu/ sendal mereka ke dalam masjid. Walaupun sudah di bungkus kresek hitam tapi baunya itu masih menggangu.😦

Masjid Raya Bandung siang itu
Masjid Raya Bandung siang itu

Selesai solat jumat saya langsung menuju stasiun Bandung. Dan dipinggir jalan eh ada Batagor kuah, bungkus bang… Di stasiun saya menanti kehadiran Argo Parahyangan lagi yang akan mengantarkan ke Gambir Jakarta… Akhirnya, trip sehari dadakan sendirian pun bisa!!!

Sambil nunggu kereta sambil menyantap batagor kuah kacang
Sambil nunggu kereta sambil menyantap batagor kuah kacang

Yang saya suka dari Bandung selama 2 hari 1 malam kemarin adalah banyaknya taman kota disana, wisata kota yang sebenarnya dekat-dekat tapi lumayan jauh😀, alun-alunnya yang bersih dan ijo, dan paling favorit adalah kursi-kursi di beberapa titik di sepanjang trotoar. Duduk-duduk pun rasanya sudah enak, walaupun sendiri, hahaha…

Yang kurang suka adalah trotoar di beberapa titik juga yang rusak, mungkin juga karena kemarin banyak perbaikan jadi rada kurang nyaman saja dibuat jalan. Dan adanya premanisme seperti yang saya ceritakan di atas tadi walaupun itu di kabupatennya, tapi rasanya ogah aja kalau disuruh ngulang. Rencana ke tebing keraton jadi saya urungkan karena takut kalo kena premanisme lagi😦

Saran kalo pengen jalan-jalan di Bandung biar lebih hemat adalah sewa kendaraan (sepeda motor), anti macet dan lebih ekonomis daripada saya yang ngojek. Dan mungkin kalau sewa motor bisa terhindar dari aksi premanisme tadi. Berbanyak lebih asik sih, tapi sendiri juga tidak masalah.

Perjalanan ke Bandung bukan hanya kepuasan mengunjungi tempat wisata, melainkan sampai seberapa bisa saya menghadapi hal-hal di luar kendali tadi, walaupun sepertinya saya fail😦 buat nambah pengalaman lah ya🙂. Sendiri juga ternyata tidak selalu lebih murah, yang jelas budget pasti bisa diminimalisir jika kita menyusun rencana dengan matang. Tapi sendiri juga lebih bisa membuat kita tahu who really you are. Jangan selalu anggap sendiri itu kesepian ya, tapi ubah kesepian jadi kebebasan🙂

Hatur nuhun B a n d u n g🙂

Estimasi pengeluaran:

  • Kereta api PP 140.000
  • Hostel 124.000/ malam
  • Elf dari terminal Leuwi Panjang – terminal Ciwidey dan sebaliknya 12.000
  • Angkot ciwidey – kawah putih normalnya +/- 10.000 tapi berangkat saya kena 25.000 dan pulangnya 15.000
  • HTM Kawah putih + Ontang-Anting 35.000
  • Ojek (go-jek) kisaran 10.000 – 15.000 sekali jalan
  • Makan tergantung tempatnya.

Sedikit video perjalanan di Bandung, bisa nih di view di link di bawah ini

Halo-Halo Bandung😀

9 thoughts on “Ke Bandung Sendirian Sehari Aja? Bisa Kok!

  1. gw ga nemu saung angklung udjo di short trip lu kali ini, recomended banget lah kesana….

    get local sebenernya perlu, tapi hati-hati dengan yang memanfaatkan ketulusan hati kita.

    Kadang ketulusan dibalas dengan keculasan #kemudianBaper

  2. SAU kemarin kelewatan, hehe… Gk sempet byk browsing jg soalnya.
    Nah makanya itu, gw blm bisa bedain mana yang dia bakal baik dan gak bakal baik

  3. kalo pengen jalan-jalan di Bandung biar lebih hemat adalah numpang di rumah kawan😀😀 ….Saya sering ke Bandung dan nginepnya di Puri Cipaganti atau Wisma Gumilang. Rasanya biasa aja ke sana (saking keseringan kali ya), tapi baca ulasanmu jadi mengiyakan kalo Bandung itu indah, fotonya kereen semua.

  4. Iya mbak… Kmrn temen pas lagi d jkt jd gk ad tmpt nginap, hehehe…
    Wah makasih rekom tmpt nginanya, bisa lah kpn2 saya coba😀
    Wkwkw, (saking seringnya), maklum baru pertama explore haha… Makasih banyakk ya mbak 🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s