“Get Lost” di Semau dan Kupang

Semau? Belum pernah denger? Sama! Haha… berawal dari pencarian tempat indah yang belum pernah dikunjungi, ntah kenapa muncul nama pulau ini. Ya Pulau Semau. Sebuah pulau kecil yang terletak di utara kota Kupang, NTT. Begitu saya ketik nama pulau ini di google, youtube, instagram, gairah saya mengeksplor pulau ini menjadi begitu tinggi. Digambarkan semua bahwa pulau di daerah timur Indonesia ini menyimpan banyak tempat indah yang belum terlalu dikenal banyak orang.

Pagi yang sangat cerah itu, setibanya di Bandara El Tari Kupang, saya dan ransel langsung bergegas menuju penginapan di daerah Oesapa dengan diantar abang ojek yang bisa ditemukan di sekitar bandara. Saya memilih Hotel Winslow (udah di booking via traveloka dan terbukti booking online ternyata bisa dapet lebih murah) karena tempatnya yang lumayan strategis (lumayan dekat dengan pantai Lasiana). 15 menit perjalanan, saya tiba di hotel dan langsung siap-siap berangkat menuju destinasi pertama, Pulau Semau yang mistis nan eksotis.

Hotel Winslow
Hotel Winslow

How to go to Semau? Untuk menuju pulau ini sebenarnya sangat mudah. Turun dari bandara langsung cari ojek/ angkutan umum untuk menuju pelabuhan Tenau. Atau bisa juga menyewa motor (ini masih susah karena saya kemarin gagal sewa motor di Kupang). Dari pelabuhan Tenau, kita nanti langsung menyeberang ke pulau Semau.

Karena saya tidak dapat sewa motor, akhirnya saya naik bemo (kalau orang Jawa bilangnya angkot). Bemo disini khas dan lucu. Bentuknya sih sama seperti yang ada di dekat rumah. Cuman uniknya, bemo disini selalu didandani sedemikian rupa, seperti dikasih antena, stiker yang rame, dan full musik yang sumpah kenceng banget ajeb-ajeb, lagunya pun campur dari yang barat sampai indo, kata orang sana sih supaya menarik pelanggan (sayang gak ada fotonya).

Untuk menuju pelabuhan Tenau, dari hotel di Oesapa tadi saya oper bemo 2 kali. Dan kurang lebih 45 menit saya tiba di pelabuhan. Suasana pelabuhan pagi itu belum ramai. Saya langsung menuju pelabuhan penyeberangan ke pulau Semau. Dan 30 menit berselang, saya sampai di pelabuhan Onan Batu. Karena saya tadi tidak dapat sewa motor, jadinya saya sewa motor di Pulau Semau. Lumayan alot tawar menawar harga sewa disini. Dan setelah saya menyerah, okelah deal.

Pelabuhan Tenau kecil untuk menyeberang ke Semau
Pelabuhan Tenau kecil untuk menyeberang ke Semau
Pelabuhan Batu Onan
Pelabuhan Onan Batu

Tujuan utama saya ke pulau Semau adalah bukit Liman-nya yang bikin ngiler. Ntah nanti disepanjang perjalanan dapat suguhan pantai indah apa, karena dari maps sendiri sudah kelihatan kalau sepanjang utara pulau Semau dipenuhi dengan pantai berpasir putih dengan air laut toscanya. Menuju tempat indah memang tidaklah seindah yang dibayangkan, maps hanyalah maps tanpa bisa menggambarkan kondisi lapangan. Jalanan di Semau gak semulus paha ayamnya kaefsi tanpa kulit (?). Di maps sih gampang, 1 jam udah bisa sampai, tapi kenyataannya? Haha… Karena saya hanya bersama ransel ya sudahlah, alon-alon bae, takon warga sekitar, GPS pun gak selalu on karena sinyal labil. Sumpah saya merinding dengan alamnya disini, bukan karena yang katanya mistis tadi, tapi karena memang maps kali ini bener, sepanjang utara pulau ini sangat indah. Pasir putihnya, warna toscanya, bersihnya, pohonnya, hewannya. Kamera saya tidak bisa mengabadikan keindahan yang terpampang nyata di depan ini. Sepanjang perjalanan ke Liman saya tidak berhenti berdecak kagum. Beberapa foto perjalanan saya selama menuju Bukit Liman.

Pantai Otan
Pantai Otan
Hasil tangkapan ikan warga yang saya temui di pantai Otan
Hasil tangkapan ikan warga yang saya temui di pantai Otan
get lost
get lost (1)
get lost
get lost (2)
Sapi yang lagi bermain pasir :D
Sapi yang lagi bermain pasir😀
get lost
get lost (3)
Kambing yang berkeliaran di jalan
Kambing yang berkeliaran di jalan
get lost
get lost (4)
pohon lontar menjadi salah satu khas di pantai sini
pohon lontar menjadi salah satu khas di pantai sini
get lost
get lost (5)
view di pinggir jalan
view di pinggir jalan
1 orang nelayan yang tampak dari kejauhan
1 orang nelayan yang tampak dari kejauhan
salah satu view di pinggir jalan
view favorit pinggir jalan
rumput laut yang sedang dijemur
rumput laut yang sedang dijemur
cangkang kerang yang dulnya dibuat membuat garam
cangkang kerang yang dulnya dibuat membuat garam

Usut punya cerita, kenapa di bilang mistis, kebetulan sewaktu saya naik perahu penyeberangan ke pulau Semau, saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu warga lokal. Mistis disini adalah karena rumor yang beredar yaitu adanya ilmu gaib yang dimiliki warga dimana kekuatan itu bisa membuat seseorang menjadi tidak waras bahkan bisa menyebabkan kematian. Serem juga dengernya, tapi saya berprinsip selama saya tidak berbuat yang aneh-aneh, tidak merusak lingkungan apalagi merugikan warga sana, inshaAllah bisa pulang dengan selamat, Alhamdulillah.

Dan setelah perjalanan yang panjang sekali tapi tidak membuat capek, saya sampai di Bukit Liman. Ntah disini tambah sepi, tidak ada orang sama sekali (dari tadi memang sepanjang pesisir utaranya sepi banget). Dan saya tidak berhenti bergumam, ini kenapa indahnya kebangetan, hehe, kalau bisa nginep saya pasti akan nginep disini menikmati sunset sunrise yang pasti indah!

kesan pertama yang bikin melting
kesan pertama yang bikin melting
siapa yang tidak tergoda bermain di sini :*
siapa yang tidak tergoda bermain di sini :*
pantainya benar-benar sepi dan bersih
pantainya benar-benar sepi dan bersih
Stacking pebbles
Stacking pebbles
menu makan siang saya di Bukit Liman -kue cucur-
menu makan siang saya di Bukit Liman -kue cucur-
View sebelah kanan dari Puncak Bukit Liman
View sebelah kanan dari Puncak Bukit Liman
Motor yang tahan banting
Motor yang tahan banting

Belum puas sih bermain di Liman Semau, tetapi karena sebelum jam 5 sore harus sudah menyeberang lagi ke Kupang, saya mengakhiri explorasi Semau, semoga suatu saat nanti bisa kembali kesini, banyak yang belum tereksplor.

Setibanya di pelabuhan Tenau lagi, saya bergegas menuju pantai Lasiana untuk menikmati sunset yang sudah terkenal keindahannya itu. Tetapi rencananya tidak begitu berhasil. Tiba di Lasiana matahari sudah tenggelam. Yah sudahlah, gak ada matahari,  langit sore pun masih bisa dinikmati dengan sebuah kelapa muda segar.

Pantai Lasiana
Siluet di Pantai Lasiana

Puas menikmati kegelapan di pantai Lasiana saya kembali ke hotel dengan bemo lagi. Setelah bersih-bersih lalu saya mencari makan di sekitar hotel. Sebenarnya kalau tidak capek paling enak kulineran seafood di Kampung Solor. Tapi badan sudah tidak bisa berkompromi, lalapan ayam dan bakso pun jadi yang penting perut terisi. Dan setelah perut kenyang, balik hotel langsung tidur.

Paginya, saya mencari spot sunrise, tetapi ternyata hari itu tidak beruntung mendapatkan sunrise, yang ada saja dinikmati.

Ternyata posisi laut memang tidak cocok untuk sunrise-an
Ternyata posisi laut memang tidak cocok untuk sunrise-an

Setelah selesai menikmati pagi itu, saya balik ke hotel lagi lalu bertemu karyawannya, setelah berdiskusi akhirnya saya dapat sewa motor plus abang ojeknya dengan harga yang masih ramah di kantong. Setelah mandi dan sarapan yang disediakan hotel saya berangkat dengan abang ojek tadi. Tujun hari ini yaitu Goa Kristal, karena banyak sumber yang menyarankan untuk jangan melewatkan goa indah ini. Kurang lebih 1 jam saya pun sampai di goa. Masih jam 9 pagi. Dan tidak ada siapa-siapa, hanya yang jaga parkir. Pantes sepi, ternyata saya salah dengan timingnya, zzz, harusnya ke goa Kristal itu jam 11 keatas, pas sinar matahari masuk ke lubang goa dan menyinari airnya yang membuat air goa menjadi seperti Kristal. Karena sudah di TKP mau gimana lagi, gak mungkin balik, hehe. Dan karena untuk turun ke bawah masih gelap, saya meminta yang jaga parkir menemani turun. Ngeri juga masuk ke goa masih gelap gulita. Setelah sampai di bawah, ternyata sudah ada secercah cahaya yang masuk. Lumayan lah mengobati rasa penasaran saya akan warna kristalnya. Walaupun warna tosca kristalnya tidak sempurna, tapi untungnya kamera dengan fitur slowspeednya bisa sedikit menangkap, haha… Air disini setelah saya cicipi rasanya asin, masih payau, tetapi pas saya berenang, mata tidak pedih sama sekali, dienak-enakin deh berenang di tengah kegelapan yang sebenarnya saya merinding, hehe…

Dari parkiran tinggal jalan kaki 100 meter menuju Goa
Dari parkiran tinggal jalan kaki 100 meter menuju Goa
Hanya dapat sedikit kristal karena cahaya masih sedikit
Hanya dapat sedikit kristal karena cahaya masih sedikit
Mulut goa dilihat dari bawah
Mulut goa dilihat dari bawah

Puas di goa Kristal saya memutuskan untuk pulang, di perjalanan pulang, abang ojeknya menawari destinasi dekat rumahnya, saya iyain saja. Rupanya saya dibawa di tebing yang tidak begitu tinggi. Di tebing ini ada jangkar berkarat yang katanya sudah berusia ratusan tahun, bekas peninggalan penjajahan bangsa Portugis. Ntah katanya jangkar itu tidak bisa diangkat, mistis lagi (?)

Pantai Tebing Karang
Pantai Tebing Karang
Jangkar ratusan tahun
Jangkar ratusan tahun
Ada Pak TNI yang lagi patroli laut
Ada Pak TNI yang lagi patroli laut

Selesai dari destinasi itu saya kembali lagi ke hotel dan mengemas barang-barang lalu pergi. Pergi untuk kembali…

Perlu diketahui, penduduk di Semau dan Kupang orangnya ramah, baik hati, dan murah senyum. Sewaktu di Semau, saya tidak ada capeknya membalas lemparan senyum dari warga sana dari yang anak kecil sampai yang tua, salut banget dengan keramah-tamahan mereka. Di Kupang juga begitu, orangnya baik-baik. Saya sempat bertanya kepada seseorang sewaktu di terminal Kupang “Bang, kalau mau ke pelabuhan Tenau naik bemo yang mana ya?” si abangnya pun langsung bilang “mari saya antar naik bemonya”! Pas pulangnya saya sampai ditraktir naik bemo (orang yang berbeda). Pokoknya dimana kaki berpijak, disitu langit kita junjung ya! Satu lagi yang membuat saya salut disini adalah hampir tidak pernah melihat pengemis disini. Saya juga heran, ada ya orang yang hanya menjual sepasang guling ditenteng dengan tali dan daun lontar, bagaimana kebutuhan hidup dia tercukupi? Ntah lah, yang jelas saya melihat mereka itu hidupnya dipenuhi rasa syukur! Dari hari itu, saya menjadi begitu lebih bersyukur lagi akan apa yang sedang saya alami dan apa yang saya punyai, keluarga, teman dan orang yang disayangi.

Terima kasih ya Kupang, Semau. Tempat yang dulunya saya anggap tidak ada apa-apanya ternyata menyimpan banyak sekali keindahan, pelajaran dan keramahan. Solo packer ini juga menjadi pelajaran berharga. Sejauh mana saya berani dan berhati-hati. Kalau ada yang pengen kesini, kesini lah karena tidak akan menyesal sama sekali dengan alam disini dan juga orangnya🙂

Estimai Pengeluaran:

  • Ojek bandara-penginapan Rp25.000 (tergantung seberapa pintar menawar)
  • Bemo jauh dekat Rp3.000
  • Penginapan bervariasi, tinggal pilih di traveloka sesuai budget mulai Rp100.000 hingga jutaan
  • Tiket penyeberangan kapal dari Tenau ke Onan Batu Rp20.000 per orang dan Rp50.000 per motor
  • Sewa motor di Semau Rp100.000 (tidak bisa ditawar)
  • Bensin di Semau Rp10.000 per liter
  • Harga makanan lumayan mahal dibandingkan dengan di Jawa, 1 porsi lalapan ayam sampai Rp25.000
  • Sewa ojek setengah hari Rp70.000 (tergantung seberapa pintar menawar)
  • Selama di Semau, belum ada tiket masuknya sama sekali
  • Tiket masuk Goa Kristal hanya membayar parkir seikhlasnya

Tips:

Karena di Semau tidak ada angkot, kondisi jalan yang rusak, tidak ada warung, saya sarankan untuk persiapkan kondisi tubuh yang prima, bawa bekal makanan dari Kupang kalau bisa. Dan karena kita eksplorasinya pakai motor, pakailah sunblock supaya kulit tidak terbakar karena cuaca disana panas. Lebih panas dari Jakarta tapi udaranya bersih. Dan juga pakai masker karena kondisi jalan yang belum banyak aspal sehingga jalannya berdebu. Jangan lupa bawa topi juga. Dan selalu berhati-hati di setiap perjalanan🙂

Lebih baik sewa motor di Kupang daripada sewa motor di pulau Semau, karena harganya jelas berbeda dan waktu penggunaannya tentunya juga berbeda. Tapi untuk sewa motor di Kupang saya belum nemu, masih susah. Alternatif untuk sewa, coba sewa saja motornya karyawan hotel. Kalau mau santai, pakai bemo tidak masalah karena bemo disini beroperasi sampai jam 9 malam. Naik bemo bisa lebih hemat uang tapi waktu untuk mengeksplorasi tempat menjadi berkurang.

Di Semau untuk penyeberangannya sendiri hanya sampai jam 7 malam, lebih amannya kalau pulang sebelum petang. Dan juga di sini belum ada penginapan, kalau mau nginap lebih baik ijin orang sana.

Booking hotel dahulu sebelum tiba di tempat untuk berjaga-jaga.

14 thoughts on ““Get Lost” di Semau dan Kupang

  1. WAAA tekan Bukit Liman! Dulu nggak nemu alias kelewatan jadi skip tempat itu. Jebul viewne apik ya, PR nih hahaha. Untung ya di Semau ada sewa motor yang bisa dipakai jadi dirimu gak repot keliling pulau dewean.🙂

  2. Haha, bukit liman paling jauh soale, dan sepiiii… iya kesono lgi lah ke liman haha… iya, coba kalo gak ad sewa motor disana pasti sampe liman magrib😀

  3. Kalau di pulau semau nya saya lihat mobil cuman lihat pick up itu pun pas deket pelabuhan. Untuk kondisi jalanannya pun kalo naik mobil belum bisa secepat naik motor krn jalan kecil dan berbatu kebanyakan.

  4. Halo mas, mau tanya kalau penyewaan motor atau mungkin mas pernah catat nomor hp bapak ojeknya boleh diinfokan tah mas?

  5. Halo dee, maaf bru bales.. maaf jg nomornya kehapus kemarin, sayang sekali.. tp sampainya di pulau semau udah ada tukang ojek dee dulu itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s