28 Jam Menjelajahi Secuil Madura

28 jam kemarin berjalan sangat singkat, lebih singkat dari biasanya. Saya berkesempatan menikmati sedikit keindahan alam Madura.

Bayangan saya dari dulu tentang Madura adalah tempat yang gersang dan panas. Hari itu saya mencoba membuktikannya, benar atau tidak. Berangkat dari Kediri sekitar jam setengah 7 malam,  Saya dan Mas Odik menuju Bungurasih untuk bertemu dengan rombongan kita nantinya menuju tujuan. Ya, sekitar pukul 21.30 WIB kita tiba disana, celingukan menunggu Mas Ridlo dan teman-teman lainnya. Dan pukul 22.00 WIB berangkatlah kita menuju pulau garam. Karena hal ini dan itu, akhirnya kita sampai di Sumenep sekitar jam 3 pagi. Kita parkir minibus di alun-alun Sumenep sambil menunggu waktu subuh tiba. Di depan alun-alun ini terdapat Masjid Jami’ yang sangat indah dan megah, saya heran, suasana di masjidnya sangat ramai padahal masih jam segitu.

Masjid Jami' Sumenep yang ramai
Masjid Jami’ Sumenep yang ramai

Selesai menunaikan solat subuh, sekitar jam setengah 5 pagi kita berangkat menuju tujuan pertama yaitu Pantai Lombang. Kurang lebih satu jam merasakan goncangan hebat di dalam minibus (karena posisi duduk saya yang berada paling belakang) akhirnya sampai juga di pantai ini. Kondisi alam pantainya sudah bagus, pasirnya sangat lembut, ditambah lagi banyaknya pohon Cemara Udang disini yang membuat Pantai Lombang memiliki ciri khas daripada pantai-pantai lainnya. Yang disayangkan adalah sampah, yah, lagi-lagi sampah T.T.

Suasana pagi mendung di Pantai Lombang
Suasana pagi mendung di Pantai Lombang
woh, ternyata pesisir Pantai Lombang jadi jalur lalu lintas warga
woh, ternyata pesisir Pantai Lombang jadi jalur lalu lintas warga
Ciri khas Pantai Lombang yaitu adanya Pohon cemara udang
Ciri khas Pantai Lombang yaitu adanya Pohon cemara udang
Selfi w/ ketua rombongan (topi biru)
Selfi w/ ketua rombongan (topi biru)

Sekitar pukul 07.30 kita meninggalkan pantai ini untuk menuju Pelabuhan Kalianget. Kondisi jalannya lumayan seperti tadi, bergelombang dan beberapa ada yang lubang. Jam 8 kita sudah tiba di pelabuhan, kita langsung siap-siap untuk menuju Gili Labak, tapi sebelumnya kita membungkus makanan dan membeli minuman terlebih dahulu karena di pulau nanti tidak ada orang jualan. Saya membungkus menu Cumi bumbu hitam dengan harga 8 ribu saja.

Dan jam setengah 9 kita berangkat. Di sepanjang perjalanan, saya mengobrol dengan teman saya, salah satu warga asli Sumenep yang begitu baiknya menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, haha..

Kiri Pelabuhan Kalianget (P. Madura) - Kanan Pulau Talango
Kiri Pelabuhan Kalianget (P. Madura) – Kanan Pulau Talango
Terombang-ambing di atas ombak
Terombang-ambing di atas ombak selama 2,5 jam

Dan pukul 11.00 WIB kita sampai di Gili Labak, wow, dari jauh tampak ramai disana, banyak nelayan dan masyarakat sedang bekerja. Ada juga beberapa rombongan lain yang sedang snorkeling. Oh ya, kondisi pulau untuk kesan pertama sudah bagus🙂

Itu, 2 kapal kita *touchdown Gili Labak
Itu, 2 kapal kita *touchdown Gili Labak
Snorkeling di Gili Labak
Snorkeling di Gili Labak
Aktifitas ibu-ibu disini yaitu membuat teri kering
Aktifitas ibu-ibu disini yaitu membuat teri kering
Pengeringan teri
Pengeringan teri

Menginjakkan kaki di pulau, saya mas Ridlo dan mas Odik langsung bergegas mengelilingi pulau, sedangkan yang lainnya sudah memulai snorkelingnya. Sebenarnya 30 menit saja kita sudah bisa mengelilingi pulau ini, tapi karena kita yang keasyikan jadinya kita bisa sampai 3 jam, hahaha… Banyak spot view indah yang sangat disayangkan kalau dilewatkan. Cek tkp!!!

Mumpung belum terlalu gosong :D
Mumpung belum terlalu gosong😀 | Shoot by: Mas Ridlo
Standing alone
Standing alone
Banyaknya pohon yang sudah mati menjadi daya tarik sendiri
Banyaknya pohon yang sudah mati menjadi daya tarik sendiri
Ini di Gili Labak, sisi kiri masih hijau sedangkan sisi kanan gersang
Ini di Gili Labak, sisi kiri masih hijau sedangkan sisi kanan gersang
Feel free | Talent: Mas Odik
Feel free | Talent: Mas Odik
Gersang dan biru, begitu kontras
Gersang dan biru, begitu kontras
di suatu tempat | Talent: Mas Odik
di suatu tempat | Talent: Mas Odik
I'm flying without wings | Talent: Mas Ridlo
I’m flying without wings | Talent: Mas Ridlo
Bukan bulu babi, ini hanya tanaman
Bukan bulu babi, ini hanya tanaman

Setengah perjalanan saya sudah mulai lemas karena sangat panas sekali disana, saya pun istirahat sebentar di gubuk pinggir pantai, ngobrol dengan salah satu warga disana, sambil memandangi laut biru yang panas, hehe..

Berteduh sejenak
Berteduh sejenak

Oh ya, untuk sisi pulau yang ini, banyak saya jumpai sampah, yah, botol-botol dan sampah plastik, baik itu yang terbawa ombak laut/ pun wisatawan. Ternyata penduduk di pulau ini juga hanya ada beberapa saja, cuma 20an kepala rumah tangga. Jadi bisa dibayangkan sepinya kayak apa😀. Selesai berteduh saya melanjutkan perjalanan lagi dengan semangat panas siang hari.

Miring tapi tetep berdiri
Miring tapi tetep berdiri
Cie yang galau, ahaha
Cie yang galau, ahaha
Pasir yang lembut :*
Pasir yang lembut :*
Jalan-jalan santai | Ini nih, spot paling bagus untuk snorkeling
Jalan-jalan santai | Ini nih, spot paling bagus untuk snorkeling

Dan tibalah saya di spot awal tadi yaitu tempat mengeringkan ikan teri, itu pertanda selesai sudah mengelilingi Pulau Gili Labak.

Akhir dari tour mengelilingi pulau ketemu dengan ikan teri lagi
Akhir dari tour mengelilingi pulau ketemu dengan ikan teri lagi

Sayang seribu sayang, pukul 13.30 ternyata teman-teman yang tadinya snorkeling sudah siap semua di atas kapal, dan saya pun hanya bisa sedikit kecewa karena belum menikmati alam bawah lautnya. Tapi mau gimana lagi karena jumlah yang diatas kapal jauh lebih banyak daripada kita bertiga, haha.. Okedah, next time bisa dicoba lagi. Selamat jalan Gili Labak…

Di perjalanan pulang jadi terasa lebih lama karena di 1/4 perjalanan ada kapal yang mogok ditengah jalan, jadinya 2 kapal kita saling bersambungan, dari 2,5 jam menjadi 3 jam. Dinikmati sajalah. Sampai di pelabuhan kita langsung mandi dan solat. Lalu lanjut perjalanan pulang lagi kembali menuju rumah masing-masing.

Terimakasih Madura, Mas Dewa, Mas Wafi, Mas Ridlo, Mas Odik, dan rombongan trip Dewa-Dewi kemarin. Semoga suatu saat bisa kembali kesana lagi. Oh ya, bayangan saya tentang Madura tidak lagi panas dan gersang tapi ada juga keindahan disana yang bisa dinikmati🙂.

*total pengeluaran saya dihitung dari Kediri-Bungurasih-Pantai Lombang-Gili Labak-Bungurasih-Kediri tidak sampai 300ribu (termasuk makan)

*Untuk biaya kapal sekitar 750ribu untuk 1 rombongan yang bisa diisi sekitar 15 orang.

13 thoughts on “28 Jam Menjelajahi Secuil Madura

  1. 2 jam kalo perahunya cepet, kalo ombak lagi gk bersahabat bisa sampe 3 jam..
    nggak ada penginapan, adanya rumah2 penduduk gitu mas, oh ya, toilet juga gak setiap rumah ada.. hehe..
    nah boleh banget itu kalo eksplor seharian, dapet sunset dan sunrise, tru snorkeling sepuasnya.. pengen ksana lagi deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s