Explore Lampung 2014 (End)

Berat rasanya meninggalkan Pahawang pagi itu, karena belum semua dijelajahi. Perahu yang saya tumpangi pun berangkat mengantarkan kami menuju pelabuhan Ketapang. Suasana pelabuhan hari itu tidak seperti suasana waktu kita berangkat, ya.. karena memang bukan weekend. Setibanya di Ketapang, kita sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan panjang lagi yaitu ke Padang Cermin.

Sepanjang perjalanan menuju Padang Cermin, kita disuguhi banyak view indah yang jarang saya jumpai di Pulau Jawa. Kalau di Jawa banyak sawah, disini pun banyak sawah, tetapi lebih banyak lagi hutan Pohon Kelapa, yang tertata rapi dan memang pemandangan indah. Saya juga melewati Pantai Klara dengan view air lautnya yang tosca plus banyak sekali gubug-gubug peristirahatannya.

Sawah dengan background pohon kelapa
Sawah dengan background pohon kelapa
Ahh.. indah
Ahh.. indah
Melewati Pantai Klara di awal-awal perjalanan
Melewati Pantai Klara di awal-awal perjalanan
View di perjalanan
View di perjalanan

Semakin jauh dari pantai, saya juga menjumpai beberapa rumah adat Lampung dan angkutan umumnya.

Rumah adat Lampung
Rumah adat Lampung
Rumah adat Lampung lainnya
Rumah adat Lampung lainnya
Jadi angkutan ini semacam pick-up yang udah dimodifikasi bagian belakangnya
Jadi angkutan ini semacam pick-up yang udah dimodifikasi bagian belakangnya

Air Terjun Sumber Jaya

Kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kita sampai di tempat Pak Kades Sumber Jaya. Tentunya Mbak Rumba sudah akrab dengan beliau karena suaminya Mbak Rumba juga bekerja bersama Pak Kades. Setelah istirahat beberapa menit, saya, Ian Mbak Rumba dan Dian (saudaranya Mbak Rumba) berangkat menuju Air Terjun Sumber Jaya. Lokasinya cukup dekat dengan rumah Pak Kades tadi, tapi kondisi jalannya yang masih makadaman membuat kita harus lebih berhati-hati lagi. Dan sampailah kita ditempatnya.. Terlebih dahulu kita menitipkan motor ke kenalannya Mbak Rumba.

Tracking pun dimulai. Kemarin Mbak Rumba bilang kalau ini bakalan jadi unforgettable journey kalau di Lampung. Menurut saya perjalannnya sih biasa aja, 30 menitan tracking kita sudah sampai di lokasi.

Kalo gak mandi kurang afdol | Mbak Rumba Shoot
Kalo gak mandi kurang afdol | Mbak Rumba Shoot

Dan Mbak Rumba pun meminta kita untuk menyudahi ritual mandi kemarin, haha.. kenapa cepat sekali mbak. Dengan berat hati kita bersiap untuk pulang. Eits, ada udang dibalik rempeyek, ternyata jalan pulangnya tidak seperti jalan keberangkatan kita tadi. Ini melewati tebing yang sangat terjal, ampun deh jalannya susah, memanjat bergelantungan dengan kemiringan sudut mencapi 70 derajat, jadi kita harus berhati-hati karena kalau salah pijakan sedikit saja kita bisa terbang ke bawah, haha…

Subhanallah, ternyata Mbak Rumba membawa kita menuju Air Terjun Sumber Jaya yang sesungguhnya, ahh, benar-benar speechless.. Ternyata yang di bawah tadi hanya anakannya toh. Hihi..

Debitnya masih kecil, gimana kalau pas deras? pasti lebih indah
Debitnya masih kecil, gimana kalau pas deras? pasti lebih indah | Mbak Rumba shoot
Ian
Ian
Air Terjun Sumber Jaya
Air Terjun Sumber Jaya
Ahh.. salah satu makan siang saya yang ternikmat | jangan buang sampah sembarangan lho ya | Mbak Rumba shoot
Ahh.. salah satu makan siang saya yang ternikmat | jangan buang sampah sembarangan lho ya | Mbak Rumba shoot
Ian-Mbak Rumba
Ian-Mbak Rumba

Benar-benar puas bisa datang dan melihat keindahan Tuhan ini, dari sekian air terjun yang pernah saya kunjungi, Air Terjun Sumber Jaya ini merupakan air terjun favorit selain Madakaripura.

Kurang lebih 1 jam berada disini kita memutuskan untuk kembali ke rumah. Ternyata jalur trackingnya ampun dah, lebih cepat tapi juga lebih parah. Kita melewati jalur dengan kemiringan yang hampir sama dengan tadi cuman ini tanahnya lebih gembur dan licin karena daun coklat yang kering, jadi harus lebih hati-hati lagi. Dan lega rasanya setelah melewati halangan rintangan sepanjang perjalanan pulang, hehe… Setelah sampai di tempat menitipkan motor, kita disuguhi pisang ukuran jumbo, duh baik banget orang sini ya, udah nitip motor eh masih dikasih yang lebih, makasih ya Ibu dan Bapak🙂

Balik lagi ke rumah Pak Kades, kita langsung diajak menuju perkebunan coklatnya, bener-bener luas dan banyak sekali coklatnya. Kita juga disuguhi degan yang langsung dipetik dari pohonnya, seger maknyuss..

Metik langsung makan| rasanya asem-asem manis kayak aku gitu #cuih
Metik langsung makan| rasanya asem-asem manis kayak aku gitu #cuih
Seger dan nikmat, sendoknya pun dari kulitnya
Seger dan nikmat, sendoknya pun dari kulitnya

Setelah kenyang kita melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah suami Mbak Rumba yang ternyata masih lumayan jauh dari sini, yoh kita kemon..

Di Atas Padang Cermin

Perjalanannya pun membutuhkan perjuangan, jalanan makadaman lebih banyak dari yang tadi kita lewati, naik turun dan jalan lobang jadi santapan motor Mbak Rumba, duh yang sabar ya tor, hehe.. Hampir 40 menitan kita menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah, legaa… mandi dengan air yang seger khas pegunungan. Dan disambung dengan makan malam kepiting ala Mbak Rumba yang nagih dan bikin bibir saya seksi (muanyun banget karena alergi, haha).

Rasanya hari itu benar-benar mengalami jetlag yang parah, setelah 2hari terakhir berada di tempat panas-panasan sekarang ada di gunung yang dinginnya luar biasa, jadilah malam itu jadi malam yang sangat panjang karena hawa dinginnya yang luar biasa, haha… (mirip-mirip di Pujon, Malang).

Keesokan harinya, setelah solat Subuh, saya dan Dian mencoba untuk hunting sunrise di tempat tertinggi di bukit Padang Cermin. Dan hasilnya, sunrise-an kemarin sangat istimewa, mengingat 2 hari di Pahawang tidak dapat sunrise🙂

Dari sini kita bisa melihat Pahawang, ah keren
Dari sini kita bisa melihat Pahawang, ah keren
Sinar yang masih anget-angetnya gini itu nagih :)
Sinar yang masih anget-angetnya gini itu nagih🙂
Refleksi indah
Refleksi indah

Bandar Lampung

Puas nyari sunrise, kita balik lagi ke rumah dan bersiap-siap untuk balik ke Bandar Lampung. Perjalanan pun dimulai lagi, kurang lebih 4 jam an kita sampai di Ibukota Provinsi Lampung. Sedih rasanya berpisah dengan Mbak Rumba karena dia sudah harus kembali ke rutinitasnya.

Penampakan kita setelah berjemur, haha | thanks ya durian lampungnya mbak
Penampakan kita setelah berjemur, haha | thanks ya durian lampungnya mbak

Berpisah dengan Mbak Rumba kita langsung disambut temennya Ian, Riyan, yang nantinya akan mengajak kita keliling kota. Tujuan pertama yaitu berburu Mie Khodon. Untuk rasanya sih sama kayak mie-mie goreng Jawa tetapi ini mie lebih banyak telornya, lumayan… Saya juga bertemu dengan Tri disini. Selesai kuliner kita melanjutkan ke toko oleh-oleh di daerah lupa namanya😦 dan setelah itu kita balik ke rumah kontrakan Riyan, melepaskan kecapekan di hari ini. Sekitar pukul 7 malam kita lanjut lagi, melihat kehidupan malam Lampung, ciela, haha.. Kita mengunjungi Summit Bistro (semacam resto mewah di atas bukit dengan view kota Lampung) dan ke Bundaran Gajah.

Kalau di malang, ini seperti di daerah Payung
Kalau di malang, ini seperti di daerah Payung
Ini resto so sweet, ada di atas bukit dengan view kota
Ini resto so sweet, ada di atas bukit dengan view kota
Kongkow bersama teman-teman, haha
Kongkow bersama teman-teman, haha
Menunya simple tapi harganya tidak begitu simple, haha
Menunya simple tapi harganya tidak begitu simple, haha
Bundaran Gajah
Bundaran Gajah
Tri | Ian | Riyan shoot
Tri | Ian | Riyan shoot

Akhirnya, satu demi satu list tujuan saya ke Lampung pun sudah tercoret semua. Kita balik lagi ke rumah untuk persiapan pulang besok. Nah, pengalaman buruk saya terjadi lagi.. Dan lagi-lagi hubungannya dengan para pencari nafkah yang tidak sewajarnya mereka melakukan itu. Kita kena tipu dengan pihak travel dari bandar Lampung – Bakauheni, seharusnya tarif normal 35.000 tapi kita dipalak 100.000 per orang, karena sopir travel dan calonya bener-bener memanfaatkan kondisi. Saya dan Ian juga terpaksa naik karena kita dikasih tau kalau bus yang lewat masih nanti siang, sedangkan kita ngejar waktu untuk ke bandara. Sabar!!!

Setelah sampai di Bakauheni kita melanjutkan lagi perjalanan dengan rute yang seperti kemarin waktu berangkat, tapi dari terminal Merak kita turun terminal Serang supaya menghemat waktu dengan naik damri. Dan akhirnya sampai juga di Bandara sekitar pukul 3 sore (biaya damri dari Serang ke Soetta 50.000). Pesawat kita take off sekitar jam 6 sore. Lumayan banget banyak waktu istirahat. Sambil nunggu waktu check-in, sambil menyelonjorkan kaki dan nglesot di lantai karena kursi-kursinya udah full.

Epilog

Alhamdulillah, 5 hari itu terasa memabukkan sangat menyenangkan, hehe.. Benar-benar pengalaman luar biasa. Banyak pengalaman-pengalaman baru dan cerita-cerita suka/ pun duka.

Selamat tinggal sementara… liburan… selamat datang hari kerja🙂.

Terimakasih tak terhingga kepada Ian (partner perjalanan), Mbak Rumba (bener-bener jamu temennya dengan baik), Dian, Riyan, Suami Mbak Rumba, dan orang-orang yang hadir di trip Lampung kemarin. Terimakasih Lampung🙂

Yang mau tanya-tanya seputar trip ke Lampung, Pahawang khususnya, bisa menghubungi Mbak Eka Rumba CP nya 085768674587🙂

9 thoughts on “Explore Lampung 2014 (End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s