Dilema Wisata

Judul ini saya copy paste dari salah seorang sahabat saya (@EscapedTraveler) yang beberapa bulan lalu mengetwit persoalan dilema-dilema wisata yang terjadi di sekitar kita. Saya pun menyadari bahwa memang benar itu terjadi pada kehidupan saya. Saya ambil contoh saja tentang salah satu wisata alam yang ada di Tulungagung yaitu Pantai Ngalur dan Sanggar.

Dulu sekitar bulan Maret 2013 saya berkesempatan mengunjungi kedua pantai indah ini dimana saya benar-benar takjub dengan pesona dari keduanya. Pasir yang bersih, ombak yang santai, langit yang biru, air laut yang jernih, anak desa yang suka ria berenang di pantai dan tidak adanya tanda-tanda sampah berserakan (ada tapi sangat sedikit mungkin karena sampah dari laut seberang). Dan beberapa hari yang lalu saya juga mengunjungi pantai-pantai ini, kondisinya sudah bergeser sedikit, untuk masalah keindahan pantai memang tidak bisa diragukan lagi, tetap indahh dan eksotis akan tetapi untuk kebersihanlah yang menjadi sorotan saya, di sana saya sudah menjumpai beberapa sampah berserakan, antara lain sampah makanan ringan, botol minuman, dan plastik-plastik.  Mungkin itu disebabkan karena pantai sanggar dan ngalur sekarang sudah mulai ramai dikunjungi masyarakat. Sampah oh sampah!!!

Pantai Sanggar Maret 2013
Pantai Sanggar Maret 2013
Pantai Sanggar September 2013
Pantai Sanggar September 2013

Yang menjadi dilema disini sebenarnya adalah adanya 4 subjek yaitu pantai indah, warga desa, pengunjung pantai dan pemerintah.

  • Pantai indah memang sudah jadi warisan untuk kita supaya kita semua bisa menikmatinya dengan bijaksana. Pantai itu akan tetap indah jika ada yang melestarikannya.
  • Warga desa, mereka telah memperbaiki akomodasi menuju pantai supaya menarik pengunjung yang banyak sehingga juga bisa menjadi sumber penghasilan mereka. Itu tidak salah sama sekali, mereka juga akan ikut menjaga tempat wisata supaya keindahannya tetep terjaga dan banyak pengunjung yang datang. Nantinya akan menguntungkan bagi mereka juga. Rasa lebih memiliki akan lebih besar warga desa daripada kita sebagai pengunjung. Oleh karenanya pasti mereka juga lebih menjaganya. Menurut warga asli yang saya lempari beberapa pertanyaan kemarin juga sependapat kalau kondisi pantai masih lebih asri yang dulu-dulu. Mungkin gara-gara memang sudah banyak yang berkunjung kesini ya?
  • Pengunjung pantai lah yang bisa jadi suatu dilema (nahh??). Sebenarnya banyak lho yang sudah sadar wisata, sadar menjaga kelestarian lingkungan, sadar akan pentingnya alam untuk kehidupan kita. Banyak juga komunitas-komunitas yang berlabel pecinta alam yang menurut saya hebat-hebat dimana mereka memang konsisten dalam ikut berpartisipasi merawat lingkungan. Tetapi…. lebih banyak lagi orang yang kurang sadar wisata lho ternyata, hehe.. Nah harusnya kita mulailah dari diri kita sendiri untuk melakukan hal-hal yang sangat sepele semisal tidak membuang bungkus permen dimana saja, minimal kalau tidak ada tempat sampah ya kita kantongi dulu lah sambil nyari tempat sampah. Dari hal yang kecil itulah kita akan terbiasa untuk melakukan hal lain yang benar dan besar. Percaya deh keliatannya mudah tapi susah.
  • Yang harus ikut andil pada dilema wisata yang terakhir yaitu pemerintah, pemerintah harusnya lebih gembor-gembor memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang masyarakat yang sadar lingkungan. Walaupun sudah dilakukan tetapi harus tetap berjalan sampai masyarakat benar-benar sadar, hehe..

Dilema wisata ini harusnya bisa teratasi kalau warga desa, pengunjung dan pemerintah bisa menjaga sama-sama akan alam yang sudah tertata di tempatnya masing-masing. Yang enak itu kalau warga dapat penghasilan tambahan, pengunjung dapat menikmati keindahan tempat wisata dan pemerintah bisa membuat rakyatnya makmur, haha.. Ingatlah, mulai dari diri sendiri akan bisa tercipta sebuah keindahan.

Salam masyarakat sadar lingkungan!!!  XD

2 thoughts on “Dilema Wisata

  1. Kesadaran masyarakat kita tentang kebersihan memang agak aneh. Melihat tempat wisata kotor mereka biasanya mengeluh. Tapi tidak membuat mereka berhenti buang sampah sembarangan. Mungkin bisa lihat contoh kasus Pantai Kuta. Masyarakat sekitar terutama pedagang yang menggantungkan rejeki dari pantai itu secara bersama-sama berperan aktif terhadap kebersihan pantai. Menyapu, mengumpulkan sampah, dll. Mereka disadarkan bahwa kalau pantai bersih, pengunjung nyaman, ujung2nya rejeki mereka aman.

  2. iya mas Adi, setuju.. dulu pantai Kuta juga sempat ramai diperbincangkan gara2 pantainya kotor kan ya? setelah peristiwa itu, 2 kali mengunjungi pantai Kuta selalu bersih.. keren pokoknya kalau ada hubungan timbal balik yang bagus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s