Jogja yang Selalu Menarik Hati

Jogja Jogja Jogja.. Sebuah nama kota besar di Indonesia yang sangat kaya akan budaya dan pariwisatanya. Untuk kali ketiga saya mengunjungi tempat ini. Sebenarnya saya sudah pernah posting perjalanan seru ke Jogja, tapi postingan ini berbeda dengan sebelumnya karena perjalanan ini saya lalui dengan teman yang berbeda pula. Saya dedikasikan cerita ini untuk ketiga teman saya Khairul Yaum *yaum*, Imas Wahyuni *Uni*, Ratna *Nana*.

Tanggal 21 Desember 2012 kita memulai perjalanan dari terminal Arjosari Malang. Sore yang deras mengiringi kita menuju terminal. Kita naik bus jurusan Surabaya dengan membayar Rp.10.000. Sepanjang perjalanan saya ngobrol-ngobrol dengan Yaum dengan diiringi musik khas bapak sopir.. Sagita asololey.. Si Uni seneng banget dengan theme song keberangkatan kita, hahaha…

Sekitar pukul 5 sore kita sampai di terminal Bungurasih. Kita langsung membayar tiket kepada agen PO Bus Handoyo yang sudah di booking Yaum seharga Rp. 85.000 jurusan Sby-Lempuyangan. Suasana batin saya pada waktu itu sedang tidak karuan, antara senang dan sedih, senang karena akan mengarungi bahtera jalan-jalan dengan teman-teman yang unyu *maksa, sedih karena masalah kantor yang di luar dugaan tiba-tiba muncul, istilahnya sedang galau akut, senyum pun kurang ikhlas, haha..

Bus pun berangkat, saya berusaha menidurkan diri supaya galaunya hilang, liburan itu tujuannya kan buat refreshing bukan untuk memikirkan masalah kerjaan lagi.. Jadi hilanglah galau… Dan akhirnya teman kantor saya memberikan sedikit pencerahan sehingga galaunya pun berangsur-angsur hilang😀. Di tengah perjalanan bus berhenti, kita mendapat jatah makan satu kali. Nana beruntung juga dapat 2 ayam goreng sekaligus *tapi sayangnya alot xp.

Sekitar pukul 3 pagi tanggal 22 Desember 2012 kita sampai di terminal Lempuyangan, asikk.. Jogja here we go🙂. Turun dari bus kita clingak clinguk melihat suasana sepi terminal, beberapa sopir taxi  ada yang menawarkan jasanya untuk menuju penginapan tapi kita tolak karena kita sudah punya itienary sendiri. Kita singgah di masjid terminal menunaikan sholat shubuh. Selesai solat kita menuju shelter transjogja.

*s_info: dengan transjogja kita lebih mudah menjangkau wisata-wisata di sekitar kota Jogja, hanya dengan membayar Rp. 3.000 saja lho.

Setelah menaiki transjogja, kita duduk di kursi pojok belakang. Dan disinilah kita menemukan teman baru (Risky Lala Hani). Rasanya senang bisa mendapat teman baru yang sama-sama punya misi sama yaitu jalan-jalan hemat, hehe.. transjogja pun berhenti di shelter malioboro, kita langsung bergegas mencari penginapan murah dan ketemulah Penginapan WHW di jalan Sosrokusuman. Lumayan satu kamar Rp.130.000 untuk double bed. Dan teman baru kita mendapat penginapan di Prambanan Guest House yang harganya kurang lebih juga sama. Setelah istirahat cukup, kita melanjutkan perjalanan menuju destinasi pertama yaitu Benteng Vredeburg. Tetapi sebelum itu kita sarapan dulu di pinggir jalan Malioboro, kita memesan lontong sayur, dengan sayur khasnya yaitu gudeg. Rasanya pedes dan enak dan murah seharga Rp. 8.000 termasuk minum.

suasana sepi di pagi hari
suasana sepi di pagi hari
ki: Prambanan Guest House, ka: WHW
ki: Prambanan Guest House, ka: WHW
bener-bener maknyus
bener-bener maknyus

Selesai sarapan nikmat kita memasuki Vredeburg. Untuk htm nya murah cuma Rp. 2.000 saja per orang. Banyak imitasi-imitasi benda peninggalan sejarah pada masa penjajahan Belanda, juga ada banyak diorama yang menceritakan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah.

Nuansa Klasik Vredeburg
Nuansa Klasik Vredeburg
Bangunan Vredeburg
Bangunan Vredeburg

Puas memutari Vredeburg kita melanjutkan menuju Keraton Jogja. Jarak antar Vredeburg dan Keraton sekitar 4km jadi lebih baik kita berjalan kaki saja, karena nantinya kita juga akan bisa menikmati Titik Nol KM Jogjakarta. Diantaranya kita akan bisa melihat Monumen Serangan Sebelas Maret, Gedung BNI, Kantor Pos, dan bangunan-bangunan klasik lainnya.

Gedung BNI
Gedung BNI
Monumen Serangan Sebelas Maret
Monumen Serangan Sebelas Maret
Titik Nol KM Jogjakarta
Titik Nol KM Jogjakarta

Hari itu benar-benar panas, terik matahari menemani kita sepanjang perjalanan. Tetapi teman-teman sudah sedia payung *hebat. Kita pun sampai di depan loket Keraton yang bagian depan dan membayar htm sebesar Rp. 3.000 plus Rp. 1.000 jika kita membawa kamera. Sejenak kita beristirahat dan si Risky Lala dan Hani menraktir kita es degan, lumayan untuk membasahi kerongkongan yang sudah kering ini *thanks yaa… Isi dari bagian keraton depan ini hanya terdapat beberapa bangunan saja jadi kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutarinya.

Penjual di depan Keraton (yaum shoot)
Penjual di depan Keraton (yaum shoot)
Ladies
The Ladies ki-ka (Uni-Nana-Riski-Hani-Lala)
Keraton
Salah satu bangunan di Keraton depan

Selesai melihat-lihat di Keraton Depan kita menuju Keraton Utama, tetapi kita melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu di masjid yang berada satu kompleks dengan keraton. Masjidnya cukup unik dan sangat nyaman untuk tidur siang *ehh.. Selesai istirahat kita memasuki Keraton Utama dengan membayar htm Rp. 5.000 plus Rp. 1.000 jika membawa kamera.

Di dalam Keraton ini banyak terdapat benda-benda peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono dan generasi penerusnya. Juga banyak kita jumpai para abdi dalem yang memakai pakaian khas Jawa, blangkon dan jarik. Suasana di dalam benar-benar suasana tempo dulu. Banyak sekali objek yang bisa kita abadikan di jepretan kamera. Sewaktu kita kesana kebetulan juga ada pertunjukan wayang kulit, banyak wisatawan yang antusias melihatnya walaupun mungkin kebanyakan wisatawan kurang paham dengan bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa Tulen. Saya sendiri pun juga hanya bisa mengerti beberapa kata, haha.. Tetapi masih bisa mengerti alur cerita dari wayang kulit yang diperagakan oleh dalang.

Panasnya siang itu
Panasnya siang itu
Bangunan Keraton
Bangunan Keraton

s_info: sewaktu kita berada di dalam keraton, dalam kondisi apapun hujan atau panas jangan menggunakan payung karena yang boleh menggunakan payung disana hanya kanjeng Ratu. Sesuai pengalaman, kita kemarin juga sempet ditegor sama abdi dalem karena menggunakan payung, haha..

Puas berkeliling keraton, kita menuju Museum Kereta. Htmnya hanya Rp. 2.000 saja. Tidak diperlukan banyak waktu untuk mengelilingi museum ini, karena museumnya tidak terlalu besar. Akan banyak kita jumpai kereta-kereta yang pernah digunakan keluarga Keraton.

Salah satu kereta
Salah satu kereta
Kereta cantik
Kereta cantik

Panasnya siang dan padatnya aktifitas dari pagi membuat kita mau tidak mau pulang ke penginapan untuk istirahat meluruskan kaki dan punggung supaya nanti malamnya bisa berpetualang lagi😀. ZZZzzzz..

Malam pun tiba kita bergegas keluar penginapan menuju Alun-Alun Selatan. Sebelumnya kita sempatkan lagi menjajal kuliner Malioboro yaitu sate ayam pincuk. Seporsi sate ayam pincuk terdiri dari 5 tusuk sate + irisan lontong dengan harga Rp. 5.000, rasanya seperti sate ayam pada umumnya tetapi suasananya itu yang membuat satenya jadi lebih enak, ahaha.. kita juga membeli es teh seharga Rp. 2.000. Yang kurang enak dilihat disekitar penjual sate ini adalah masyarakat yang tidak sadar lingkungan, jadi masih banyak orang-orang yang membuang sampah di bawah-bawah kursi walaupun di sini juga banyak petugas kebersihan yang setiap beberapa jam sekali membersihkannya. Sebenarnya juga tidak salah mereka sepenuhnya karena memang saya waktu itu tidak menjumpai tempat sampah. Hahaha jadi bingung kan siapa yang salah 0.0.

Nih lezat kan
Nih lezat kan

Selanjutnya kita bergegas menuju Alun-Alun Selatan ehh, tiba-tiba ada insiden sandal putus, haha.. Sandalnya Nana putus x.x.. Akhirnya Nana kita tinggal di tempat dan saya Yaum Uni membelikan sandal di Alun-Alun Utara, keliling keliling mencari sandal yang cocok dan murah. Setelah selesai kita lanjut ke Alun-Alun Selatan. Menurut saya sih jarak antara Alun-Alun Utara dan Selatan tidak begitu jauh, saya pun memberikan dukungan moril ke Uni dan Nana biar mereka tidak menyerah, haha.. Tapi mereka terlihat begitu capek, hmm.. Eh tapi lagi-lagi kita dapat teman baru, sepasang kekasih dari Surabaya yang juga ingin ke Alun-Alun Selatan. Romantisnya jalan kaki berdua, hehe.. Kita singgah di masjid dekat Alun-Alun dan juga sempat membeli es krim coklat vanilla, rasanya segerrr..

Dan sampailah kita di Alun-Alun Selatan. Walaupun cuaca gerimis tapi masih ramai aja tempat ini, kita jumpai banyak Sepeda Gowes yang banyak lampu kerlap kerlipnya. Tujuan utama kita yaitu menjajal mitos bahwa kalau kita bisa jalan melewati 2 pohon Beringin maka niscaya doa kita akan dikabulkan. Saya pun mencoba dua kali hasilnya GAGAL, haha.. Uni dan Nana juga gagal. Tapi si Yaum entah karena beruntung/ curang dia berhasil, hehe.. peace bro :p..

Banyaknya sepeda gowes meramaikan malam hitam
Banyaknya sepeda gowes meramaikan malam hitam

Puas menikmati Alun-Alun Selatan kita menuju kuliner khas Jogja yang lainnya yaitu Nasi Kucing di daerah stasiun Tugu Jogjakarta. Nah karena saya sudah gak tega melihat gadis-gadis jalan kaki akhirnya kita naik becak untuk perjalanan pulangnya. Tarif becak dari Alun-Alun Selatan ke Alun-Alun Utara Rp. 10.000. Setelah kita turun di Alun-Alun Utara kita berjalanan kaki di sepanjang Jalan Malioboro sambil shopping buat oleh-oleh dan titipan. Banyak sekali pilihan kaos dan baju serta aksesoris yang dijual disepanjang jalan, kita harus pintar menawar harga jika pada barang tidak tertera harganya. Standar harga kaos disini antara Rp. 15.000 – Rp. 50.000. Toko oleh-oleh yang menurut saya lengkap itu di Toko Mirota dan Toko Pasar Seni Nadzar. Kualitas barangnya sudah bagus dan harganya juga sesuai dengan kantong.

Pasar Seni Nadzar
Pasar Seni Nadzar
Suasana malam di Malioboro (yaum shoot)
Suasana malam di Malioboro (yaum shoot)

Warung nasi kucing yang kita tuju letaknya persis di depan gedung kampus. Menu yang ditawarkan antara lain nasi kucing itu sendiri, sate jamur, sate usus, sate ati, sate kulit, dan banyak menu yang lainnya dan harganya sesuai lah, ada juga kopi Joss yang mantap… Selesai ngobrol sana sini dan makan nasi kucing yang murah dan enak, akhirnya kita menyudahi perjalanan hari ini karena masih ada hari esok yang lebih seru lagi “Borobudur”. ZZZzzzzz.. (to be continued)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s