Kembali ke BALI

Melihat ada tanggal merah ditambah cuti bersama membuat saya sangat semangat di bulan kesebelas ini, November ceria… Jauh jauh hari sebelum tanggal merah datang (15 November 2012) saya merencanakan untuk vacation entah kemana itu yang penting menghabiskan libur panjang. Dan terpilihlah Pulau Seribu Pura, BALI.

Walaupun setahun yang lalu sudah mengunjungi pulau ini, tapi hasrat akan mengeksplore keindahan pulau ini masih sangat besar. Oleh karenanya saya memilih Bali lagi. Tapi vacation saya kali ini akan menjadi lebih seru karena jalan-jalannya ala backpacker gitu aka jalan-jalan hemat. Hemat dan hemat selama liburan, hehe..

Liburan ini saya bersama Adi dan Aril, disusul kemudian ada Mbak Martha dan Olik. Jadilah berlima seperti power rangers, haha.. Karena niatnya hemat, maka mulai dari pemberangkatan sampai kepulangan pun kita perkirakan berapa saja biaya yang akan keluar. Kita mencari info-info tentang tarif peginapan murah di sekitar Kuta, transportasi yang akan diipakai untuk berangkat, pulang dan selama di Bali, makanan-makanan dengan harga terjangkau, sampai yang paling penting yaitu tujuan wisata yang akan dikunjungi dengan bantuan mbah google dan membaca blog-blog orang lain.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan Adi membeli tiket bus dari Malang ke Terminal Mengwi dengan PO Bus Zena, tarifnya Rp 90.000, masih standar lah, itu sudah dengan fasilitas dapat bantal, selimut, dan ada toiletnya. Kondisinya juga bersih, dan lumayan longgar. Setelah dapat tiket berangkat kita membeli tiket pulang, dengan naik kereta dari Banyuwangi ke Malang dengan harga Rp 18.500 dengan namanya kereta Tawangalun, kereta kelas ekonomi.  Tiket pulang dan pergi sudah kita dapat pada hari itu juga, tinggal persiapan yang lainnya. Bali semakin dekat😀.

Rencana kita liburan di Bali selama 3 hari 2 malam. Berangkat tanggal 14 November dan pulang tanggal 17 November 2012. Sehari sebelum keberangkatan kita sudah mempersiapkan apa-apa saja yang akan dipakai disana, karena cuma 2 malam barang bawaan saya pun tidak terlalu berat, masih bisa digendong kemana-mana, hehe.. Cuma beberapa kaos,  celana pendek dan perlengkapan lainnya yang mendukung.

Rabu sore pun datang, saya, Adi, Mbak Martha dan Olik pun bersiap menuju terminal Arjosari (waktu itu kita di telponin terus sama pak kernet PO Bus karena kita pukul 17.30 WIB belum nongol-nongol juga, jadi berasa dikejar kejar setan, hehe..). Aril rencananya naik kereta dari jember dan bertemu kita di terminal Ubung nantinya. Dan pukul 18.10 WIB kita berangkat, karena sudah capek akhirnya saya pun tertidur. Sepanjang perjalanan naik bus ZENA ini kita dihibur sama “Keith Martin” lho, suara ngoroknya begitu keras melengking dan pas bangun dia muter musiknya juga keras banget -_-, pokoknya gak ada orang itu gak rame, haha. Fasilitas dari Bus ini yang lainnya yaitu dapat fasilitas makan gratis, dan restorannya ada di daerah Situbondo. Selesai makan tengah malam, perjalanan di lanjut lagi dan nyampe pelabuhan Ketapang pukul 01.45 WIB. Dan yang kita lihat adalah banyaknya bus yang mengantre untuk menyebrang ke Gilimanuk. Akhirnya 3 jam itu kita habiskan di dalam bus, sungguh membuat mati gaya, tapi si “Keith” masih aja ngorok, haha..

Setelah naik kapal ferry, kita pun langsung menuju balkon paling atas sendiri, tidak direncanakan, kita bisa melihat sunrise di atas kapal ferry. Sungguh indah pemandangannya, perjuangan antre 3 jam tadi terbayar oleh sunrise yang tidak ada di jadwal ini, awesome.

Pelabhuan Ketapang
Pelabhuan Ketapang
Sunrise yang tidak direncanakan
Sunrise yang tidak direncanakan
Sunrise
Sunrise
Sunrise dengan latar pegunungan di Bali
Sunrise dengan latar pegunungan di Bali
Sunrise Indah di atas kapal ferry
Sunrise Indah di atas kapal ferry

Setelah sampai Gilimanuk, kita langsung lanjut perjalanan, tapi entah kenapa, lagi-lagi macet puanjang dan parah di jalan sekitar Jembrana dan Pekutatan. Ada truck yang nyungsep (kelebihan muatan). Fuhhh.. Perjalanan pun terasa lama sekaliiii.. Dan trolala.. tibalah kita di terminal Mengwi. Sebuah terminal Bali yang baru dioperasikan beberapa bulan yang lalu, bangunannya luas dan masih bersih, tapi keliatan sepi banget.

Mengwi yang masih bersih dan luas
Mengwi yang masih bersih dan luas

Sampai di Mengwi kita langsung mencari angkot untuk mengantar kita ke Terminal Ubung.  Dengan tarif Rp 10.000 rasanya saya kurang ikhlas karena kondisi angkotnya yang gak banget dan padet banget penumpangnya. 15menit kemudian kita sudah berada di Terminal Ubung. Langsung deh diserbu sama calo-calo bus yang menawarkan jasa, tapi kita hanya tersenyum dan bilang maaf Pak, sudah pesen kendaraan ko.

s_tips: Untuk temen-temen pas sampai di terminal Ubung hati-hati saja, karena disini banyak calo yang memaksa kita supaya membeli tiketnya, hati-hati bener deh, karena saya melihat sendiri ada remaja yang sampe ditarik-tarik kaosnya dikerubungi 3 orang hanya untuk disuruh naik busnya, ada juga anak kecil yang sampai nangis karena lihat bapaknya beradu mulut dengan beberapa calo, ngeri.. mending langsung beli di agennya, ada di dalam terminal Ubung.

Setelah kita bertemu dengan Aril, langsung deh kita nyari tempat persewaan sepeda motor yang berada di dalam terminal, namanya Ayu JPM. Kita menyewa 2 matic dan 1 sepeda bebek. Per hari dikenakan Rp 65.000 dengan mendepositkan uang sebesar Rp 500.000 untuk masing-masing sepeda. Setelah urusan administrasi selesai kita langsung menuju Kuta, mencari penginapan yang murah sesuai hasil googling kita seminggu yang lalu.. Kebanyakan yang murah itu ada di Jalan Poppies 1 dan Poppies 2 dan sekitar jalan raya Kuta. Harga berkisar dari Rp. 110.000 sampai jutaan tergantung kebutuhan. Yang masuk dalam list penginapan murah sewaktu itu antara lain Hotel Arthawan, Hotel Cempaka 2, Mekar Jaya Bungalows, Hotel Hadi Poetra. Karena baru pertama kali memasuki daerah Poppies, tersesatlah kita, bolak-balik, muter muter, mencari-dan mencari, tapi belum ketemu juga yang nama-nama diatas. GPS pun belum berfungsi dengan baik karena berbagai hal. Mbak Martha bilang kapok sama GPS, lebih baik tanya ke penduduk lokal (setuju Mbak :D). Sampai kita juga sempat terpisah jadi 2 group. Frustasi belum nemu hotel kita pun makan siang dulu di Pujasera sekitar Jalan Raya Kuta. Harga makanannya standar Rp 13.000 per porsi. Setelah mengisi tenaga kita lanjut lagi menuju yang namanya Mekar Jaya Bungalows. Dan ketemu.. berasa nemu surga di tengah ramainya Kuta yang kala itu sangat panas. Recomended banget penginapan yang murah ini. Sudah bersih, kamar luas, deket dengan pantai Kuta dan murah, hehe..

Bed di penginapan (adi'sshoot)
Bed di penginapan (adi’sshoot)
Tempat wifi gratis (dilihat dari balkon kamar)
Tempat wifi gratis (dilihat dari balkon kamar)

s_tips: pilihlah hotel sesuai kebutuhan dan budget kita. Kalau hotel hanya digunakan untuk tidur saja lebih baik memilih kamar dengan fasilitas yang standar (fan saja bukan AC). Disini kebanyakan kamar mandi sudah ada didalam kamar masing-masing. Dan kebanyakan lagi, kita tidak bisa booking hotel di sekitar Poppies jauh-jauh hari, mereka menerapkan sistem siapa cepat dia dapat. Jadi pas hari H baru bisa check-in langsung. Mengandalkan keberuntungan kita😀.

Setelah istirahat dan mandi di hotel sebentar, tujuan pertama kita yaitu melihat sunset di pantai Kuta. Tinggal menyusuri Jalan Poppies II yang mengarah ke pantai sampailah kita di ikon pantai Bali, Pantai Kuta. Ada yang bilang, gak ke Bali kalau belum ke pantai Kuta. Suasana sore itu cukup ramai, ada yang tiduran menunggu sunset, foto-foto, bermain air, bersenda gurau dengan teman, dan masih banyak lain. Kita juga bertemu dengan Samid yang sudah setia menunggu di pantai Kuta. Sunset pun tiba, tetapi saya tidak bisa full melihat sunset karena terhalang sedikit awan, but it doesn’t matter, tetep bagus dan berkesan.

dari kiri (Samid, Adi, Aril)
dari kiri (Samid, Adi, Aril)
Sunset di Kuta
Sunset di Kuta
Sunset di Kuta
Sunset di Kuta

Selesai dari Kuta kita kembali ke penginapan, istirahat sebentar lalu menuju destinasi berikutnya yaitu ke Kresna salah satu pusat oleh-oleh di Bali. Tetapi sebelumnya kita mampir beli makan di nasi pecel pedas Bu Vendy di Jl. Pattimura seharga Rp. 9.000 tiap porsi tergantung lauknya. Disini kita mengalami insiden kecil (ban bocor) jadilah sambil makan menunggu ban di tambal.

Nasi Pecel Pedas Bu Vendy yang gak pedas
Nasi Pecel Pedas Bu Vendy yang gak pedas
dari kiri (Samid, Adi, M. Martha, Olik, penampakan) di ground zero
dari kiri (Samid, Adi, M. Martha, Olik, penampakan) di ground zero

Setelah urusan mengisi perut dan menambal ban selesai langsung bablas ke Kresna, berbelanja apa saja ada (konteks oleh-oleh). Puas berbelanja kita lanjut ke destinasi terakhir hari itu yaitu ke Museum Bom Bali, Ground Zero. Dengan membayar parkir Rp. 5.000 kita bisa keliling di jalan Legian, jalan Pantai Kuta, Kuta Square, dan pastinya bisa menikmati kehidupan malam Bali. Dentuman-dentuman keras musik terasa di mana-mana, sungguh ramai. Berhubung semua udah capek dan ngantuk, kita tancap gas ke penginapan tercinta, good night all :*

Cerita Selanjutnya :))

11 thoughts on “Kembali ke BALI

  1. wah menarik juga nih perjalanannya.
    tapi adapenasaran juga tentang sewa motornya. itu Rp 65rb/motor ato 3 motor?

    makasih banget infonya

  2. 65 ribu itu per 1 motor nya.. ada yang lebih murah 50 ribu per motor tapi kondisinya masih jauh lebih baik yang 65 ribu tadi..
    makasih sudah mampir🙂

  3. di dalam terminal ubung ada mas ari, kmrn sewaktu saya kesana ada 2 tempat persewaan, yang satu itu motornya udah tahun lama tetapi harganya lebih murah. kalau yang saya sewa itu di Mbak Ayu, harganya lebih mahal sedikit tapi motornya masih bagus dan enak dipakainya.. smg membantu mas ari🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s